Tampilkan postingan dengan label Makhluk Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makhluk Sosial. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Januari 2020

Tanpa Sadar Dunia Maya Berdampak Ke Dunia Nyata

 

Di zaman yang semakin dipengaruhi perangkat lunak yang memberitahu kita tentang apa yang harus dipikirkan, sesuatu yang lebih kuno muncul di pemberitaan: sekelompok orang menentukan apa yang disebut sebagai berita. Facebook ternyata menggunakan manusia untuk memilih topik yang dapat atau tidak dapat dilihat pemakai. Ironis bagi pihak-pihak yang mengeluhkan pengaruh mesin, masalahnya adalah tidak adanya algoritma.

Pernyataan yang paling mengejutkan adalah pilihan topik trending situs memiliki keberpihakan antikonservatif, secara tidak seimbang menekan berita dan pandangan konservatif (perusahaan ini menyangkal keras). Ketika situs teknologi Gizmodo melaporkannya untuk pertama kalinya pada bulan Maret, mereka menyodorkan dua alasan mengapa Facebook malu terhadap keberpihakan politiknya.

Pertama, kehadiran kontraktor manusia merusak “pandangan proses pemeringkatan berita tanpa keberpihakan”. Kedua, kontraktor “kurator berita” tersebut diperlakukan lebih baik dibandingkan perangkat lunak: beroperasi di luar budaya tanggung jawab atau kepemimpinan editorial, hanya berdasarkan konsep kabur “berita trending”, bekerja untuk memenuhi kuota yang mementingkan kuantitas.

Dengan kata lain, kehadiran manusia bukanlah hal yang dipentingkan, sama dengan masalah keberpihakan. Yang penting adalah platform berbagi informasi paling berpengaruh dunia dapat memilih apa yang bisa dilihat. Platform seperti Facebook melakukan kurasi terhadap berita dan informasi kita lewat “topik trending” atau “relevansi” tetapi kita jarang melihat cara penyaringannya.

TINGKAH LAKU 

Ini hal yang penting karena sedikit perubahan pada informasi yang kita terima dapat mengubah tingkah laku. Untuk memahami alasannya, coba pertimbangkan pengetahuan dari ilmu tingkah laku yang banyak diterapkan pemerintahan dan lembaga lain di dunia, dimana taktik halus dipakai untuk mendorong kita menerapkan tingkah laku tertentu. Salah satu contoh paling terkenal adalah mengeluarkan sumbangan organ tubuh, bukannya memasukkannya. Bukannya memaksa orang menjadi pendonor anggota tubuh, sistem tidak melibatkan orang beranggapan organ siapapun dapat disumbangkan kecuali disebutkan secara khusus. Hanya dengan mengubah asumsi, semakin banyak orang yang menyumbang.

Apa yang dipermasalahkan? Para pengecamnya tidak nyaman dengan berkurangnya pemilihan berdasarkan informasi yang cukup. Penulis Nick Harkaway lewat tulisan untuk Institute of Art and Ideas, “bukannya menjelaskan masalah dan menyesuaikan kebijakan sesuai keinginan masyarakat, hal ini menempatkan keinginan masyarakat pada kebijakan yang diinginkan. Pilihan adalah suatu keterampilan, kebiasaan, anak kecil pun mengolah isi otaknya, dan hal ini harus dilatih agar menjadi terampil”.

Kembali ke dunia digital dan bagaimana hal ini diterapkan. Ketika kita melakukan navigasi di internet, kita terus dihadapkan dengan berbagai pilihan, mulai dari apa yang dbeli sampai keyakinan yang perlu dianut, dan para perancang dapat sedikit mempengaruhi keputusan kita.

INFORMASI PRIBADI

Pada akhirnya, bukan hanya Facebook yang terlibat dalam permainan pemilihan informasi. Sistem rekomendasi yang lebih cerdas mengendalikan lonjakan intelijen buatan saat ini, teknologi siap pakai dan hal-hal lain di internet seperti Google, Apple dan Amazon. Pengiriman informasi pribadi canggih adalah nama permainannya. Tetapi yang dipertaruhkan bukan hanya manusia lawan mesin, tetapi pemilihan berdasarkan informasi lawan tunduk karena dipengaruhi. Semakin dekat informasi yang relevan, semakin baik keputusan yang kita ambil: ini adalah salah satu prinsip dasar teknologi informasi sebagai kekuatan positif.

Pemikir teknologi Luciano Floridi, pengarang buku The Fourth Revolution, menggunakan istilah “rancangan proetika” untuk menggambarkan proses yang terbaik: perwakilan seimbang informasi jelas yang membuat Anda secara sadar menangani dan bertanggung jawab terhadap suatu keputusan penting. Sistem informasi seharusnya memperluas bukannya mempersempit lingkup etika kita, Floridi mengatakan, dengan menolak godaan usaha mempengaruhi yang terlalu kuat. Jangan jadikan sumbangan anggota tubuh sebagai patokan otomatis; biarkan orang menghadapi masalah. Jangan diam-diam menerapkan pandangan relevansi buatan: undang pemakai untuk berpikir, bertanya dan menyempurnakan.

Muncul masalah mendasar di sini: antara kemudahan dan pemikiran: antara apa yang diinginkan pemakai dan apa yang kemungkinan terbaik untuk mereka: antara keterbukaan dan keuntungan bisnis. Semakin tidak seimbang informasi, tentang apa yang diketahui sistem tentang Anda dengan apa yang Anda ketahui, semakin besar risiko pilihan Anda menjadi hanya serangkaian reaksi. Keseimbangan apa yang tersedia dan apa yang Anda ketahui semakin berubah setiap hari menuju ketidaktahuan masing-masing orang.

Tidak terdapat obat sederhana untuk mengatasinya dan tidak terdapat persekongkolan besar-besaran. Dan memang, paduan perangkat lunak dengan pemilihan yang dilakukan manusia semakin menjadi satu-satunya cara yang dapat kita harapkan untuk menghadapi data dalam jumlah besar yang terkumpul di dunia. Tetapi tetap perlu diingat bahwa para perancang teknologi yang kita gunakan memiliki tujuan yang berbeda, dan apakah itu algoritma atau seorang editor, keberhasilan penggunaannya berarti menghilangkan pandangan bahwa kita dapat melarikan diri dari keberpihakan manusia

Fikiran Teman Teman Mu tentang Kamu



Kita mengira dapat menilai cara kita menampilkan diri ke orang lain, tetapi ilmu psikologi menyatakan, kita sebenarnya tidak dapat melakukannya. Jika Anda seperti kebanyakan orang, Anda kemungkinan memiliki pandangan tentang pribadi Anda sendiri, apakah itu pemalu, ramah, gagap atau tenang. Tetapi seberapa jauh pandangan orang lain terkait kepribadian Anda mempengaruhi penilaian Anda sendiri? Psikolog yang mengkaji masalah ini menemukan sebagian besar dari kita memiliki apa yang mereka namakan ‘ketepatan-meta’.

Pada saat yang sama, kita memiliki kekurangan, terdapat sejumlah hal yang orang pandang tentang kita, yang tidak kita ketahui. Pada kenyataannya, semakin nyaman Anda, semakin sedikit kedalaman Anda terhadap apa yang orang lain pikirkan. Salah satu penelitian lengkap tentang apakah orang mengetahui apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya diterbitkan pada tahun 2011 oleh peneliti Washington University di St. Louis dan Wake Forest University. Lewat sejumlah kajian, Erika Carlson dan rekan-rekannya menanyai ratusan mahasiswa untuk memperingkat kepribadian mereka, terkait hal-hal seperti kejujuran, kejenakaan dan daya tarik. Hal ini kemudian disampaikan ke teman dan keluarga yang juga membuat peringkat kepribadian. Akhirnya para peserta memperkirakan bagaimana mereka berpikir orang-orang ini memperingkat dirinya.

Titik buta

Satu cara untuk menilai apa yang orang lihat terkait dengan diri Anda adalah hanya dengan mempertimbangkan bagaimana Anda melihat diri Anda dan menggunakan ini sebagai dasar untuk memperkirakan bagaimana orang lain berpikir, dengan anggapan jika Anda orang yang terbuka (atau tidak) dan seterusnya, orang lain akan berpikir sama. Tetapi Carlson dan rekannya menemukan bahkan dengan memperhatikan apa yang peserta pandang tentang diri mereka, terdapat hubungan antara bagaimana peserta berpikir orang lain memandang mereka dan bagaimana orang lain sebenarnya melihat mereka, ‘citra umum’ mereka. Pada kenyataannya, perkiraan para partisipan tentang apa yang orang lain lihat tentang diri mereka lebih mewakili ‘citra umum’ dibandingkan angka kepribadian yang mereka berikan diri mereka sendiri.

Para peneliti mengatakan temuan ini memberikan bukti apa yang mereka namakan ‘pandangan-meta’, yang mengisyaratkan kita dapat melihat melebihi pandangan diri kita sendiri untuk mengetahui apa yang orang pikirkan tentang kita, dan kita bisa melakukan ini dengan berhasil.
Ini juga benar jika proses ini diulangi pada orang asing yang para peserta baru berbicara selama lima menit. Jadi, Anda kemungkinan memiliki pemikiran tentang apa yang orang lain pandang tentang diri Anda, tetapi penelitian lanjutan mengisyaratkan pandangan Anda jauh dari sempurna, seperti yang ditunjukkan tim psikolog Jerman dari penelitian tahun 2013. Enam puluh lima mahasiswa memperingkat kepribadiannya lewat 37 pernyataan, seperti “Saya memperlakukan orang dengan adil”, dan “Saya pemalas”.

Mereka juga mengajak teman dan keluarga untuk memperingkat kepribadian mereka berdasarkan hal yang sama. Masing-masing mahasiswa membawa paling tidak tiga orang. Ada satu mahasiswa yang mengajak 35 orang untuk melakukan peran ini. Pada akhirnya mereka memperkirakan bagaimana mereka memandang orang-orang lain ini memperingkat mereka. Yang penting, para peneliti menemukan sejumlah penilaian konsisten yang dibuat para teman dan keluarga tentang para peserta, sepertinya mereka semua sepakat orang itu pemalas, yang berbeda dengan bagaimana para mahasiswa memperingkat diri mereka, dan hal ini tidak ditemukan pada perkiraan mahasiswa tentang bagaimana mereka berpikir orang lain memandang mereka.

Para peneliti menamakan kesenjangann ini 'titik buta' dan mengatakan temuan ini menunjukkan 'orang tidak menyadari sejumlah cara unik bagaimana dia dipandang orang lain'.
Orang yang gamang di masyarakat mungkin tidak terlalu terkejut dengan temuan ini, pada kenyataannya kita menghabiskan banyak waktu mencemaskan titik buta ini.
Tetapi ternyata ditemukan bahwa orang-orang yang secara kejiwaan nyaman di masyakarat, memiliki paling sedikit kedalaman tentang bagaimana orang lain melihat mereka.

Refleksi diri

Dalam sebuah kajian yang diterbitkan tahun ini, psikolog di Martin-Luther University, Jerman, meminta mahasiswa memuat kelompok empat orang dengan rekan sekelasnya, untuk memperingkat kepribadian mereka, anggota kelompok itu, dan memperkirakan bagaimana anggota kelompok mereka memperingkat mereka. Mahasiswa juga menyelesaikan langkah penyesuaian psikologis, termasuk pertanyaan tentang keyakinan diri dan isyarat ketidakberesan kepribadiaan.

Mahasiswa yang lebih bisa menyesuaikan diri menunjukkan lebih sedikit kedalaman tentang apa yang orang lihat terhadap diri mereka, mereka lebih bergantung kepada apa yang mereka pandang tentang diri mereka ketika membuat perkiraan, dan ini terutama tepat bagi rekan sekelas yang mereka lebih kenal. Dengan kata lain, semakin stabil emosi dan percaya diri Anda, semakin besar kemungkinan Anda langsung beranggapan teman Anda melihat Anda sama seperti Anda melihat diri sendiri, yang jika Anda seperti kebanyakan orang, ini dipandang positif. Temuan ini sejalan dengan tulisan lebih umum terkait depresi dimana terlihat orang yang lebih depresi memperlihatkan lebih sedikit berpihak pada diri sendiri. Dengan kata lain, mereka melihat dunia lebih berpijak pada kenyataan.

Titik-buta ini kemungkinan terutama terlihat di media sosial.
Di dunia saat ini, kita semakin memperlihatkan keberadaan diri di internet, bukannya langsung berhadapan dengan orang, dan psikolog baru-baru ini mulai menyelidiki cara baru bagi kita untuk salah menilai bagaimana orang lain memandang kita. Kajian lain yang diterbitkan tahun ini menyelidiki masalah ini terutam terkait dengan selfie, foto diri yang kita ambil sendiri seringkali dengan tujuan ditaruh di internet.

Menilai melalui foto selfie

Hampir 200 mahasiswa mendatangi laboratorium psikologi, ber-selfie, kemudian foto mereka diambil telepon yang sama oleh seorang peneliti. Mahasiswa kemudian memperingkat bagaimana mereka melihat diri mereka di foto, terkait dengan daya tarik dan disukai orang lain. Peneliti di University of Toronto menemukan orang yang sering membuat selfie diantara para mahasiswa memandang mereka lebih menarik dan disukai pada foto yang mereka ambil sendiri dibandingkan dengan yang diambil peneliti.

Tetapi ketika kelompok pemeringkat berbeda yang didapat lewat internet melihat dua kelompok foto, mereka memiliki pandangan yang berbeda, mereka memandang mahasiswa terlihat lebih menarik dan disukai orang pada foto yang dibuat peneliti. Ini kemungkinan hal yang perlu diperhatikan saat Anda menaruh selfie terbaru.Terkait dengan semua temuan ini, sepertinya jika Anda ingin mengetahui gambaran lengkap tentang bagaimana orang lain melihat Anda, lebih baik jika Anda menanyakan mereka.

Selama teman dan keluarga jujur dengan Anda, Anda kemungkinan akan menemukan diri Anda bukan seperti yang Anda pikirkan, paling tidak berbeda dengan apa yang orang lain lihat. Sementara itu jika Anda bahagia dengan diri Anda sendiri dan bagaimana Anda terlihat, kemungkinan lebih baik untuk tidak banyak bertanya. Ketidaktahuan kemungkinan memang suatu berkah.

Dr Christian Jarrett adalah editor blog Research Digest British Psychological Society. Buku terbarunya adalah Great Myths of the Brain.

Fenomena alam paling aneh di dunia

OMNIA SLOT - Dari danau berwarna merah muda ala permen karet di Australia hingga air terjun merah darah di Antartika, berikut tujuh ...